Selayang Pandang
Wuamesu adalah induk dari perhimpunan masyarakat diaspora
Ende Lio yang berkedudukan di Jakarta. Wuamesu
merupakan ruang temu masyarakat asal Ende Lio yang memiliki garis keturunan Ende Lio serta mengetahui tentang adat istiadat orang Ende Lio dari berbagai aspek.
Wuamesu merupakan embrio yang spiritnya dibawah dari Ende,
lahir ditengah minimnya komunitas Flores di Jakarta dan terbentuk sejak 25
Desember 1955, mengatasnamakan seluruh masyarakat Kabupaten Ende dimanapun
berada, dengan platform revolusi cinta kasih. Pada dasarnya Wuamesu didirikan,
terinspirasi oleh Wuamesu yang pertama kali didirikan di Ende beberapa dekade
silam oleh pendiri – pendiri yang pada waktu itu hijrah dan menetap di Jakarta.
Latar Belakang
Pada tahun 1955, berdirinya organisasi Wuamesu semula
digagas oleh pemuda-pemuda asal Ende yang kini sudah demisioner disebabkan
faktor usia. Karena itu tokoh-tokoh tersebut kini menjadi sesepuh bagi
masyarakat diaspora Ende Lio. Para sesepuh secara historis terlibat sangat
aktif dalam pendirian Wuamesu dan terbukti telah memberikan konsistensi
keterlibatannya dalam membina komunitas Wuamesu selama ini. Para sesepuh
tersebut adalah:
- Bapak Arnoldus Bhoka
- Bapak Cornelis Djoka
- Bapak Yoseph Se’e
- Bapak Yan Yos Mema
- Bapak Alo Tola
- Bapak Yakobus Seso
- Bapak Donatus Lakaseru
- Bapak Endi Wangge
- Bapak Nico Nggedhi,
- Bapak Felix Munuri
- Bapak John Babari
- Serta masih banyak lagi tokoh-tokoh pendiri yang belum disebutkan disini.
Sejak awal terbentuknya, para pendiri merasa penting untuk
mencurahkan segala bentuk ide dan gagasan demi untuk perbaikan daerah maupun
bangsa dan Negara kedepan, sehingga pada
momentum 25 Desember 1955 Wuamesu berdiri secara “De Facto”, berangkat dari
segala keterbatasan akhirnya dideklarasikan kendati secara “De Jure” belum
sempurna terlaksana. Namun dalam perjalanannya, berkat energi potensial dan
spirit tinggi yang terserap dari generasi muda kala itu, dalam semangat
kebersamaan satu tekad kuat, saat itu Wuamesu hadir memberi atmosfir berbeda
dan berhasil merangkul hampir seluruh masyarakat Flores untuk menyatu dalam
wadah tersebut lewat berbagai kegiatan-kegiatan positif demi mengubah paradigma
baru serta menepis stigma negative.
Perjalanan organisasi "Wuamesu” tentu mengalami pasang
surut dan tantangan yang cukup rumit, baik secara internal maupun eksternal.
Tantangan yang sangat fundamental adalah
bagaimana cara merubah paradigma berpikir masyarakat Ende yang cenderung apatis dan pesimis terhadap relitas yang ada disekelilingi
mereka.
Keterlibatan insan-insan muda Ende dalam organisasi Wuamesu
pada saat itu memiliki corak tersendiri, mereka di hargai dalam beragam entitas
actual. Hal ini dibuktikan dengan jelas ketika organisasi Wuamesu turut aktif
terlibat dalam berbagai event dan kegiatan-kegiatan lokal maupun nasional.
Karena itu, masyarakat Ende yang berhimpun dalam wadah ini
sadar betul bahwa hegemoni etnis dalam berbagai peran akan terlihat sangat
kental ketika semua anggotanya bertekad mengerahkan energi untuk membuktikan
potensi dan talenta, baik secara individu maupun secara bersama-sama.
Pada era kekinian, kebangkitan organisasi Wuamesu dengan
generasi baru merupakan sintesis dari lajunya arus gerakan modernitas dan
globalisasi yang menghimpit nilai-nilai kultural Ende Lio. Transisinya nilai
kultural Ende Lio menjadi sebuah alasan mendasar bagi mentor-mentor Ende untuk
melahirkan sosial movement sebagai wadah pergerakan kebangkitan atas degradasi
nilai-nilai luhur budaya Ende Lio. Karena itu, setiap generasi Wuamesu terus
melakukan pembaharuan dan pembenahan agar wadah ini lebih eksis menyerap
seluruh aspirasi masyarakat Ende Lio untuk perubahan ke arah positif.
Organisasi ini lahir, untuk menjawab tantangan era
globaliasi masa mendatang, sekaligus menepis keraguan terhadap perkembangan
mentalitas masyarakat dan generasi Ende Lio dalam menempa jati diri, agar lebih
aktif, inovatif, dan memiliki kualitas serta character building yang kuat
melalui kegiatan-kegiatan dalam berorganisasi.
Wadah Wuamesu ini akan menjadi pionir bagi kaum muda dan
masyarakat Ende Lio baik di pusat maupun daerah, karena Wuamesu berada pada
titik sentralistik barometer utama yaitu di Jakarta sebagai Ibukota yang
akan menjadi pusat eksistensi dengan
mengemban tujuan utama:
Visi
- Masyarakat Lio Ende yang inovatif, unggul, peduli terhadap lingkungan sekitar dan dapat dipercaya
Misi:
- Mengeksplorasi dan mengembangkan unsur-unsur sosial budaya masyarakat Lio Ende.
- Meningkatkan keberdayaan masyarakat Lio ende menjadi individu yang inovatif, kreatif dan berjiwa kewirausahaan
- Mengembangkan kualitas pendidik dan peserta didik Lio Ende melalui kerjasama dengan badan- badan/lembaga-lembaga sosial dan lembaga pendidikan
- Bekerja sama dengan Pemdah Kab. Ende untuk mempromosikan potensi-potensi ekonomi kreatif dan wisata Kab. Ende
Sistem nilai: Organisasi Wuamesu dan anggotanya berpegang
pada sistem nilai universal dan sistem
nilai yang bersumber dari warisan budaya leluhur Lio Ende:
- Siap Menerima Tanggung Jawab (Su’u iwa sele wuwu, Wangga iwa mbenga wara)
- Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan (Bhoka Ngere H/Ki, Bere Ngere ae)
- Kejujuran dan Memihak Kebenaran (Mbana leka jala masa, Leta leka wolo molo)
- Keberanian mengambil Resiko (Watu mite le’u lowo, Ae bere iwa sele)
- Bekerja Hingga Tuntas (Kema dhau tambu, Mbana dhau deki)
- Keterbukaan (Tangi Pei, Pene Kai)
Demikian sejarah singkat
Wuamesu ini, akhirul kata kami
selaku penggiat mengajak kita semua masyarakat Ende Lio untuk memperkuat rasa
persaudaraan dan kekeluargaan melalui
wadah organisasi ini, demi menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Ende .
Terimakasih
Penulis : Marlin Bato


0 comments:
Post a Comment